VIRUS
Virus bukanlah suatu sel, melainkan hanya merupakan
partikel yang mengandung materi genetik dan protein yang dapat memasuki atau
menginfeksi sel hidup. Sel hidup yang diinfeksi kemudian dikendalikan oleh
virus untuk menghasilkan materi genetik dan bagian-bagian lain dari virus
tersebut. Selanjutnya terbentuklah virus-virus baru dalam sel hidup yang
diinfeksinya. Materi genetik yang terkandung dalam virus dapat berupa DNA atau
RNA. DNA atau RNA ini dibungkus dalam selubung protein khusus dengan bentuk
yang berbeda-beda. Reproduksi atau perkembangbiakan virus hanya dapat terjadi
pada sel hidup yang diinfeksinya. Oleh karena itu, semua virus merupakan
parasit obligat, artinya semua virus betul-betul hanya dapat hidup sebagai
parasit.
Asal Mula Penemuan Virus dan Ciri-ciri Virus
Aktivitas manusia yang berlebihan dan diiringi oleh
perkembang an ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih telah banyak
menimbulkan dampak bagi kehidupan. Dampak tersebut antara lain adalah timbulnya
berbagai polusi akibat kegiatan yang menghasilkan sampah, terlebih lagi bila
sampah-sampah tersebut tidak di daur ulang. Akibatnya timbullah masalah
tersendiri di bidang kesehatan, yaitu banyaknya jenis penyakit yang disebabkan
oleh mikroorganisme yang hidup pada sampah. Berbagai penyakit juga disebabkan
oleh aktivitas virus. Umumnya penyakit akibat virus ini lebih susah untuk
diatasi. Oleh karena itu, perhatian manusia terhadap virus semakin besar
setelah ditemukannya berbagai penyakit yang aneh dan belum pernah ditemukan
sebelumnya. Gambar 2.1 berikut adalah contoh beberapa virus penyebab penyakit.
Virus
berasal dari bahasa latin virulae
yang artinya ‘menular’. Virus merupakan substansi aseluler (tubuh tidak berupa sel), karena hanya memiliki kapsid (selubung yang berfungsi sebagai
dinding) dan asam nukleat, tetapi
tidak memiliki inti sel, sitoplasma, dan membran sel. Ukuran virus sangat
kecil, sehingga disebut juga mikro ba
atau mikroorganisme. Di dalam biologi, virus dipelajari lebih mendalam pada
cabang ilmu mikrobiologi atau lebih
khusus lagi disebut virologi.
1. Asal Mula Penemuan Virus
Menurut para ahli biologi, virus merupakan substansi atau
bentuk peralihan antara benda hidup (makhluk hidup) dan benda mati. Virus
disebut benda mati karena virus lebih dominan mempunyai ciri-ciri sebagai benda
mati daripada ciri-ciri makhluk hidup. Virus berbentuk seperti molekul atau
partikel yang disebut virion. Tetapi
virus juga menunjukkan ciri-ciri makhluk hidup karena virus mempunyai materi genetik berupa asam nukleat yang
terdiri dari dari ADN (Asam
Deoksiribo Nukleat) atau ARN (Asam
Ribo Nukleat), serta dapat melakukan perkembangbiakan yang dinamakan replikasi.
Sejarah penemuan virus dimulai tahun 1883 oleh ilmuwan
Jerman yang bernama Adolf Meyer. Ia
melakukan penelitian pada tanaman tembakau. Pada suatu ketika ia menemukan
adanya daun tembakau yang tidak normal. Daun tersebut berwarna hijau
kekuning-kuningan, yang ternyata setelah diamati, terdapat cairan atau lendir.
Daun yang mengalami hal demikian menderita penyakit
mosaik. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme yang kita sebut virus.
Penyakit mosaik ini menyebabkan pertumbuhan tembakau menjadi terhambat (kerdil)
dan daunnya berwarna belang-belang.
Menurut Meyer, penyakit mosaik pada daun tembakau tersebut
dapat menular. Hal ini dibuktikan dengan menyemprotkan ekstrak daun tembakau
yang telah tertulari penyakit mosaik ke tanaman tembakau yang masih normal
(segar). Setelah diamati ternyata daun yang semula normal tersebut menjadi
berwarna hijau kekuningkuningan (berbintik-bintik kuning). Setelah dilakukan
penelitian, penyebab penyakit tersebut adalah mikroba yang kecil sekali dan
hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron.
Penelitian serupa dengan yang dilakukan oleh Meyer tersebut
dilakukan kembali oleh Dmitri Ivanovsky.
Ia berhasil menemukan fi lter (alat penyaring) bakteri. Di dalam penelitiannya,
Ivanovsky mengoleskan hasil saringan (dari daun tembakau yang telah terkena
penyakit mosaik) pada daun tanaman yang sehat. Hasilnya tanaman yang sehat
tersebut akhirnya tertular. Ivanovsky menyimpulkan bahwa mikroba penyebab
penyakit tersebut adalah mikroba yang bersifat patogen (penyebab penyakit) yang
mempunyai ukuran lebih kecil daripada bakteri, karena mikroba tersebut dapat
lolos dari saringan atau fi lter untuk menyaring bakteri.
Selanjutnya, pada
tahun tahun 1897, M. Beijerinck,
seorang ahli mikrobiologi berkebangsaan Belanda, menemukan fakta bahwa mikro
organisme yang menyerang tembakau tersebut dapat melakukan reproduksi dan tidak
dapat dibiakkan pada medium untuk bakteri. Fakta lainnya adalah apabila
mikroorganisme tersebut dimasukkan ke dalam alkohol,ia tidak mati. Tetapi pada
waktu itu M. Beijerinck belum berhasil mene mukan struktur dan spesies
mokroorganisme tersebut.
Menyusul penemuan Beijerinck, ilmuwan Amerika, Wendell M. Stanlye, pada tahun 1935
berhasil mengkristalkan makhluk hidup yang menyerang tanaman tambakau. Hasil
penelitian tersebut menjawab pertanyaan tentang makhluk apa yang menyebabkan
penyakit tersebut. Makhluk hidup tersebut kemudian dinamakan TMV (Tobacco Mosaic Virus) atau Virus Mosaik Tembakau. Sampai saat ini
penelitian-penelitian tentang virus dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
virus terus dilakukan dan semakin berkembang.
2. Ciri-Ciri Virus
Ciri-ciri
virus meliputi ukuran, bentuk, struktur dan fungsi, cara hidup, serta cara
reproduksinya.
a. Ukuran virus
Ukuran virus berkisar antara 25-300 nm. Virus yang
berukuran 25 nm dijumpai pada virus penyebab polio. Sedangkan virus yang
berukuran 100 nm misalnya Bakteriofag atau virus T (Bacteriophage atau phage),
yaitu virus yang menyerang bakteri Escherichia coli. Sedangkan virus yang
berukuran lebih kurang 300 nm contohnya adalah TMV (Tobacco Mosaic Virus).
b. Bentuk tubuh
Bentuk tubuh virus sangat bervariasi. Virus yang berbentuk
bulat contohnya adalah virus infl uenza (Infl uenza virus) dan HIV penyebab
AIDS. Virus juga ada yang berbentuk oval, seperti virus rabies (Rabiez virus).
Bentuk batang dijumpai pada TMV, bentuk jarum dijumpai pada Tungrovirus (virus
penyebab kekerdilan pada batang padi), dan bentuk seperti huruf T dijumpai pada
Bakteriofag. Sedangkan bentuk polihedral contohnya adalah pada Adenovirus
(penyebab penyakit demam).
c. Struktur dan fungsi
Tubuh virus bukan
merupakan sel (aseluler), tidak memiliki inti sel, sitoplasma, dan membran sel,
tetapi hanya memiliki kapsid sebagai pelindung luar. Virus berupa partikel
(molekul) yang disebut virion. Tubuh virus yang berupa kristal atau partikel
ini lebih menunjukkan ciri mineral daripada ciri kehidupan. Oleh karena itu ada
anggapan bahwa virus bukan makhluk hidup.
Struktur tubuh virus yang kita gunakan sebagai contoh dalam
pembahasan ini adalah struktur tubuh Bakteriofag (virus T). Perhatikanlah
Gambar 2.3. Tubuh virus T terbagi atas bagian kepala dan bagian ekor. Bagian
kepala terbungkus oleh suatu selubung dari protein yang disebut kapsid. Kapsid
mempunyai fungsi sebagai pemberi bentuk pada virus, dan juga berfungsi sebagai
pelindung bagian dalam tubuh virus. Bagian di luar kapsid terdapat selubung
yang tersusun dari lipida dan karbohidrat.
Di dalam tubuh virus (isi tubuh virus) terdapat materi
genetik sederhana yang terdiri dari senyawa asam nukleat yang berupa ADN Gambar
2.3 Struktur tubuh Bakteriofag Kepala berisi DNA/Kapsid Benang ekor Lempengan
ekor Sarung ekor Dinding sel bakteri Membran plasma bakteri David Burnie, 2000,
hlm 58 Virus dan Peranannya dalam Kehidupan 23 atau ARN. Bentuk ADN dan ARN
tergantung pada spesifi kasi virus. Setiap jenis virus hanya memiliki 1 macam
molekul materi genetik, yaitu ADN saja atau ARN saja. Materi genetik tersebut
dapat berupa rantai ganda yang berpilin atau rantai tunggal, dengan bentuk
memanjang, lurus, atau melingkar.
Bentuk kapsid pada virus bermacam-macam, ada yang bulat,
oval, batang, polihedral, atau seperti huruf T. Pada beberapa virus, misalnya
virus fl u dan herpes, di luar kapsid masih terdapat struktur tambah an yang
berupa kapsul pembungkus atau amplop. Kapsul pembungkus ini berfungsi membantu
virus untuk menyerang (menginfeksi) tubuh inang atau hospes, sehingga tubuh
inang tersebut menderita suatu penyakit.
d. Cara hidup
Virus hidup sebagai parasit obligat (parasit sejati).
Tempat hi dupnya di dalam jaringan tubuh organisme lain (tubuh manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan). Jadi, virus hanya dapat hidup secara parasit pada sel
organisme lain.
e. Cara berkembang biak
Virus hanya dapat berkembang biak pada sel-sel hidup dan
untuk reproduksinya virus hanya memerlukan asam nukleat. Karena dapat melakukan
reproduksi, maka virus dianggap sebagai makhluk hidup (organisme).
Di dalam proses reproduksi, virus memerlukan lingkungan sel
hidup (di dalam jaringan tubuh) sehingga virus memerlukan organisme lain
sebagai inang atau hospesnya. Contoh organisme yang menjadi hospes virus adalah
bakteri, jaringan embrio, hewan, tumbuhan, dan manusia. Proses reproduksi virus
disebut repli kasi (penggandaan diri tubuh virus). Proses replikasi virus
semenjak menempel pada sel inang sampai terbentuknya virus yang baru melibatkan
siklus litik dan siklus lisogenik. Perhatikan Gambar 2.4.
Siklus litik adalah replikasi virus yang disertai dengan
matinya sel inang setelah terbentuk anakan virus yang baru. Siklus litik virus
yang telah berhasil diteliti oleh para ilmuwan adalah siklus litik virus T
(Bacteriophage), yaitu virus yang menyerang bakteri Escherichia coli (bakteri
yang terdapat di dalam colon atau usus besar manusia).
Siklus litik Bakteriofag terdiri atas 5 fase, yaitu fase
adsorbsi, fase penetrasi sel inang, fase eklifase, fase replikasi, dan fase
pemecahan sel inang. Berikut penjelasannya.
Pada fase ini, ujung ekor Bakteriofag menempel atau melekat
pada bagian tertentu dari dinding sel bakteri yang masih dalam keadaan normal.
Daerah itu disebut daerah reseptor (receptor site atau receptor spot). Virus
yang menyerang bakteri E. coli, memiliki lisozim (lisozyme) yang berfungsi
merusak atau melubangi dinding sel bakteri.
2). Fase
penetrasi sel inang
Pada fase ini, kulit ujung ekor virus T dan dinding sel
bakteri E. coli yang telah menyatu tersebut larut hingga terbentuk saluran dari
tubuh virus T dengan sitoplasma sel bakteri. Melalui saluran ini ADN virus
merusak ke dalam sitoplasma bakteri dan bercampur dengannya.
3). Fase
eklifase
Pada fase ini, setelah bercampur dengan sitoplasma bakteri,
ADN virus mengambil alih kendali ADN bakteri. Pengendalian ini terjadi di dalam
proses penyusunan atau sintesis protein di dalam sitoplasma bakteri. Seterusnya
ADN virus mengendalikan sintesis protein kapsid virus.
4). Fase
replikasi (fase sintesis: penyusunan)
Virus baru pada fase ini mulai dibentuk. ADN virus T
mengadakan pembentukan atau penyusunan ADN virus yang baru, dengan menggunakan
ADN bakteri sebagai bahan materinya, serta membentuk selubung protein kapsid
virus. Maka terbentuklah beratus-ratus molekul ADN baru virus yang lengkap
dengan selubungnya. Setiap sel bakteri E. coli yang diserang oleh virus T dapat
menghasilkan 200-300 virus T yang baru.
5). Fase
pemecahan sel inang atau litik
Setelah terbentuk virus T yang baru, dinding sel bakteri
akan pecah (litik). Selanjutnya sejumlah virus T yang baru tersebut akan keluar
dan siap untuk menyerang sel bakteri E. coli yang baru (yang lain).
Selain secara litik, reproduksi virus juga bisa terjadi
secara lisogenik. Pada siklus lisogenik, ADN atau ARN virus menempel pada
kromosom sel inang (membentuk profage) dan mengadakan replikasi. Bedanya dengan
siklus litik, pada siklus lisogenik sel inang tidak pecah atau mati, sehingga
setiap kali sel inang membelah di dalamnya juga terdapat virus-virus yang
berkembangbiak.



No comments:
Post a Comment